Lengkap sudah terjawab tanya
yang mencuat di bilik dada. Akhirnya kau akhiri juga apa yang selama ini
kurasa. Sesuatu yang menyebabkan sembab di pelopak mata. Sempat hilang warasku,
saat kau nyatakan kita sudah berlalu. Tanpa kau pikirkan ada yang tiba-tiba
terasa getir. Tak ada lagi yang pasti. Juga janji-janji yang kini sepertinya
mendadak mati.
Aku hanya tak ingin
mengira-ngira, jika pada akhirnya yang ku tahu kau hanya sekedar iba. Bukan
rasa suka yang tumbuh di dada, tapi rusuh yang kau hadirkan seketika. Bagimu
mungkin mudah, seharusnya bagiku juga. Karena menurut benarmu kita tak pernah
ada apa-apa. Tapi bagaimana dengan segala hal yang sudah terbiasa menjalari
setiap detik bersama.
Tak lagi ingin mempermasalah
apa-apa yang sudah kau buat patah. Tidak juga mengungkit apa-apa yang terlanjur
sakit. Hanya saja yang perlu kau tahu, yang kau mainkan bukan hal yang
sepatutnya dipermainkan. Apa yang kau tinggalkan bukan hal yang semudah itu
kutanggalkan.
Jangan jadikan nyamanku
untuk amanmu menyakitiku. Jangan jadikan tenangku untuk senangmu mengabaikanku.
Kau terlalu sederhana untuk melukaiku dengan cara yang sempurna. Karena semua
sedih yang tercipta adalah pedih yang tak pernah ku kira.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar