Karya Ilmiah
DISPARITAS
PERTUMBUHAN ANTAR KABUPATEN/KOTA ERA OTONOMI DI PROVINSI LAMPUNG
Oleh
Ririn Yuliantika (0741021071)
Pembimbing : Muhammad Husaini, S.E.,
M.Si
I. Pendahuluan
A.
Latar Belakang
Pada prinsifnya
otonomi daerah adalah
penyerahan wewenang dari pemerintah pusat
kepada pemerintah daerah
untuk mengatur rumah
tangganya sendiri, baik dilihat
dari aspek administrasi
maupun dilihat dari
aspek keuangannya. Hal
ini ditandai dengan
adanya pergeseran peran
pemerintah pusat dari posisi
sentral (sentralistik) dalam
merencanakan dan melaksanakan pembangunan kepada
daerah (desentralistik). Pada kenyataannya
permasalahan yang dihadapi
daerah sekarang adalah kondisi ekonomi
yang berbeda antar
daerah. Daerah yang
kurang potensi ekonominya akan
menghadapi kesulitan untuk
meningkatkan Pendapatan Asli Daerah
(PAD). Perbedaan ini
akhirnya menimbulkan harapan
yang besar terhadap
subsidi dari pemerintah
pusat sebagai salah
satu sumber pembiayaan.
Untuk melaksanakan pembangunan
diperlukan sumber pembiayaan
yang sangat besar,
terutama untuk pembiayaan
investasi yang diharapkan
berasal dari dana
masyarakat. Dalam rangka implementasi
Undang-undang Nomor 32
dan 33 tahun
2004, salah satu
faktor yang harus
dipersiapkan oleh pemerintah
daerah adalah kemampuan
keuangan daerah, sedangkan
indikator yang dipergunakan
untuk mengukur kemampuan
keuangan daerah tersebut
ialah : rasio
PAD dibandingkan dengan
total penerimaan APBD
(Kuncoro, 1995). Untuk mengukur
pertumbuhan ekonomi juga
dapat dilihat dari Produk
Domestik
Regional
Bruto
(PDRB).
Untuk melihat
pertumbuhan ekonomi secara
riil dapat digambarkan
melalui laju pertumbuhan PDRB
atas dasar harga
konstan 2000. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung selama
lima tahun terakhir
(2005-2009) mengalami
pertumbuhan yang terus
meningkat. Memperhatikan kondisi yang
demikian dikhawatirkan tingkat perkembangan antar kabupaten/ kota yang ada di
provinsi Lampung akan semakin besar perbedaanya. Bahkan bagi daerah-daerah yang
marginal dikhawatirkan akan mengalami stagnan
atau justru akan mengalami penurunan tingkat kesejahteraan masyarakatnya dan ini berarti tidak sejalan
dengan semangat UU No 22 Tahun 1999.
Atas dasar inilah maka tulisan ini akan menelaah tentang ”Disparitas
pertumbuhan antar kabupaten/ kota era otonomi di Provinsi Lampung”.
B. Perumusan Masalah
Mengacu pada uraian latar
belakang di atas, nampak bahwa sejak dilaksanakannya UU No.22 Tahun 1999 justru menimbulkan gap pertumbuhan ekonomi pada
masing-masing kabupaten/ kota. Sehingga
muncul pertanyaan :
1.
Bagaimana tingkat ketergantungan
Kabupaten/kota di Provinsi Lampung terhadap pemerintah pusat?
2.
Bagaimana tipe pertumbuhan masing-masing
Kabupaten/kota di Provinsi Lampung?
3. Bagaimana
tingkat disparitas pertumbuhan antar Kabupaten/ kota di provinsi Lampung?
C.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan
perumusan masalah di atas maka tujuan yang akan di capai dalam penelitian ini :
1. Untuk mengetahui tingkat ketergantungan
Kabupaten/kota di Provinsi Lampung terhadap pemerintah pusat.
2.
Typologi
perkembangan masing-masing Kabupaten/ kota dalam wilayah Provinsi Lampung.
3.
Disparitas pertumbuhan antar Kabupaten/Kota dalam wilayah Provinsi Lampung.
D. Kerangka pemikiran
Pembangunan ekonomi bagi suatu daerah merupakan rangkaian kegiatan yang
bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Pemanfaatan potensi sumberdaya alam dan
sumberdaya manusia yang dimiliki dikombinasikan dengan manajemen pelaksanaan
yang baik akan menghasilkan tingkat pertumbuhan yang tinggi. Selain itu dengan memperhatikan kultur
masyarakat setempat pembangunan dapat diarahkan pada kebutuhan masyarakat yang
menjadi sasaran pembangunan.
Pembangunan
yang dilaksanakan di Indonesia sejak awal Pelita I hingga saat ini dilihat dari
sisi makro berhasil dengan baik, dengan indikator utamanya laju pertumbuhan
ekonomi yang tinggi dan tingkat pendapatan perkapita terus mengalami
kenaikkan. Namun dilihat dari sisi mikro
(daerah) nampak terjadi ketimpangan-ketimpangan antar daerah terutama distribusi
pendapatannya. Keadaan ini membuktikan
bahwa hipotesis Kuznets yang menyatakan bahwa adanya korelasi negatif antara
tingkat pertumbuhan ekonomi dengan kesenjanagan tingkat pendapatan tidak dapat
diterapkan (Tulus T.H. Tambunan, 2001).
Meskipun suatu daerah memiliki potensi sumberdaya alam dan sumberdaya
daya manusia yang cukup, namun dalam upaya pemanfaatan sumberdaya daya tersebut
perlu pengaturan yang tepat agar memberi manfaat bagi kesejahteraan
masyarakat. Mekanisme pasar belum tentu
mampu untuk mengalokasikan sumberdaya tersebut bagi kepentingan pembangunan.
Oleh karenanya campur tangan pemerintah sangat diperlukan. Seperti diketahui bahwa pemerintah
memliiki 3 fungsi utama yaitu (1) fungsi
distribusi, (2) fungsi stabilisasi, dan (3) fungsi Finansial. Melalui fungsi ini diharapkan pembangunan
ekonomi tidak semata-mata mengejar pertumbuhan yang tinggi, tetapi
memperhatikan juga tingkat pemerataan.
Pemberlakukan
otonomi daerah dan diikuti dengan campur tangan pemerintah sesuai dengan
fungsinya diharapkan mampu mengembangkan potensi daerah masing-masing, sehingga
pertumbuhan dan pemerataan akan semakin cepat terealisasi sebagaimana yang
diamanatkan dalam UU. No 22 Tahun 1999.
E. Hipotesis
Maka hipotesis yang diajukan
adalah sebagai berikut:
a.
Masing-masing
Kabupaten/kota di Provinsi Lampung memiliki indeks ketergantungan dengan
pemerintah pusat yang cukup tinggi.
b.
Typologi
pertumbuhan antar kabupaten/kota dalam wilayah Provinsi Lampung memiliki
perkembangan yang cepat.
c. Tingkat pertumbuhan ekonomi antar kabupaten/kota dalam
wilayah Provinsi Lampung relatif merata.
II. Tinjauan
Pustaka
Pada bagian ini akan diuraiakan beberapa pendekatan dalam
meng-analisis indeks ketergantungan, tipe-tipe pertumbuhan ekonomi dan disparitas pertumbuhan pada suatu wilayah.
A.
Pengertian Otonomi
Daerah
Istilah
otonomi berasal dari
bahasa Yunani, yaitu outus yang
berarti sendiri dan nomos
berarti undang-undang. Menurut
perkembangan sejarah pemerintahan
di Indonesia, otonomi
selain mengandung arti
perundang-undangan juga mengandung
arti pemerintahan atau
perundang-undangan sendiri (Pamudji, 1982).
Tujuan
pemberian otonomi daerah
adalah untuk memungkinkan
daerah yang bersangkutan mengatur
dan mengurus rumah
tangga sendiri dalam
rangka meningkatkan daya guna
dan hasil guna
penyelenggaraan pemerintahan bagi pelayanan masyarakat
dan pelaksanaan pembangunan.
Untuk melaksanakan tujuan itu,
maka kepada daerah
diberikan wewenang untuk
melaksanakan urusan pemerintahan.
Berbeda
dengan pemerintah Provinsi
hanya diberikan otonomi
terbatas yang meliputi kewenangan
lintas Kabupaten dan
Kota. Selain itu,
kewenangan yang tidak atau
belum dilaksanakan oleh
daerah Kabupaten atau
Kota, serta kewenangan bidang
pemerintahan tertentu lainnya.
Hal tersebut menunjukkan bahwa otonomi
daerah merupakan hak,
wewenang dan kewajiban
daerah untuk mengatur dan
mengurus rumah tangga
sendiri. Ini berguna
untuk peningkatan efektivitas
dan efisiensi penyelenggaraan pemerintahan
di daerah dalam rangka
pelayanan terhadap masyarakat
dan pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan.
Untuk dapat mencapai
tujuan tersebut, maka
titik berat otonomi diletakkan
di daerah Kabupaten
dan Kota dengan
pertimbangan bahwa daerah Kabupaten
atau Kota langsung
berhubungan dengan masyarakat.
Menurut Guritno
Mangkoesoebroto (1995), seluruh khasanah
politik dan pemerintahan
di Indonesia, termasuk manajemem
pemerintahan daerah, membicarakan mengenai otonomi,
desentralisasi atau demokrasi
lokal yang harus menitik
beratkan adanya kewenangan.
Dengan kewenangan yang
dimiliki, akan memotivasi daerah
untuk menumbuhkan inisiatif
dan kreativitas tidak
saja untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat tetapi juga
untuk tercapainya kemandirian daerah.
Pada hakekatnya
otonomi daerah ialah
mempunyai sumber keuangan
sendiri, mengelola dan menggunakannya untuk
melaksanakan tugas otonomi,
serta mempunyai anggaran belanja
yang ditetapkan sendiri, otonomi yang ideal adalah membutuhkan
keleluasaan dalam segala hal, Julia Panglima Saragih (2003). Dalam pelaksanaan otonomi daerah,
ada tiga faktor
yang menentukan, yaitu
perangkat, personalia, dan pembiayaan
atau pendanaan daerah.
Menurut Sukanto Reksohadiprodjo (1991), untuk mengetahui
seberapa besar tingkat ketergantungan fiskal pemerintah daerah terhadap
pemerintah pusat yang dilakukan dengan menggunakan ukuran yang disebut
desentralisasi fiskal daerah. Semakin tinggil kemandirian suatu daerah
menunjukkan bahwa daerah tersebut semakin mampu membiayai pengeluarannya
sendiri tanpa bantuan pemerintah pusat.
Ciri
utama yang menunjukkna suatu daerah otonom mampu berotonomi terletak pada
kemampuan keuangan daerah. Artinya daerah otonom harus mampu memiliki
kewenangan dan dan kemampuan untuk menggali sumber keuangannya sendiri,
mengelola dan menggunakan keuangan sendiri yang cukup memadai untuk membiayai
penyelenggaraan pemerintahan daerahnya.
B.
Ukuran Keberhasilan Otonomi Daerah
Untuk
mengetahui apakah suatu
daerah otonom mampu
mengatur dan mengurus rumah
tangganya sendiri, Syamsi
(1986) menegaskan beberapa ukuran sebagai
berikut :
a. Kemampuan
struktural organisasi
Struktur
organisasi pemerintah daerah harus
mampu menampung segala aktivitas dan
tugas-tugas yang menjadi
beban dan tanggung
jawabnya, jumlah dan ragam
unit cukup mencerminkan
kebutuhan, pembagian tugas,
wewenang dan tanggung
jawab yang cukup
jelas.
b. Kemampuan
aparatur pemerintah daerah
Aparat
pemerintah daerah harus
mampu menjalankan tugasnya
dalam mengatur dan mengurus
rumah tangga daerah.
Keahlian, moral, disiplin dan
kejujuran saling menunjang
tercapainya tujuan yang
diinginkan.
c. Kemampuan
mendorong partisipasi masyarakat
Pemerintah
daerah harus mampu
mendorong masyarakat agar
memiliki kemauan untuk berperan
serta dalam kegiatan
pembangunan.
d. Kemampuan
keuangan daerah
Pemerintah
daerah harus mampu
membiayai kegiatan pemerintahan, pembangunan dan
kemasyarakatan secara keseluruhan
sebagai wujud pelaksanaan, pengaturan
dan pengurusan rumah
tangganya sendiri.
Sumber-sumber dana antara
lain berasal dari
PAD atau sebagian
dari subsidi pemerintah pusat.
Keberhasilan suatu
daerah menjadi daerah
otonomi dapat dilihat
dari beberapa hal (Kaho, 1998),
yaitu faktor manusia,
faktor keuangan, faktor peralatan, serta
faktor organisasi dan
manajerial. Pertama, manusia adalah
faktor yang esensial
dalam penyelenggaraan
pemerintah daerah karena
merupakan subyek dalam
setiap aktivitas pemerintahan, serta
sebagai pelaku dan
penggerak proses mekanisme
dalam sistem pemerintahan. Kedua,
keuangan sebagai faktor
penting dalam melihat derajat kemandirian
suatu daerah otonom
untuk dapat mengukur,
mengurus dan membiayai urusan
rumah tangganya. Ketiga,
peralatan adalah setiap benda
atau alat yang
dipergunakan untuk memperlancar
kegiatan pemerintah daerah.
Keempat, untuk
melaksanakan otonomi daerah
dengan baik maka
diperlukan organisasi dan pola
manajemen yang baik.
Kaho (1998) menegaskan
bahwa faktor yang
sangat berpengaruh dalam pelaksanaan otonomi
daerah ialah manusia
sebagai pelaksana yang
baik. Manusia ialah faktor
yang paling esensial
dalam penyelenggaraan
pemerintahan daerah, sebagai
pelaku dan penggerak
proses mekanisme dalam
sistem pemerintahan.
Faktornya ialah anggaran,
sebagai alat utama
pada pengendalian keuangan daerah,
sehingga rencana anggaran
yang dihadapkan kepada
Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah (DPRD) harus
tepat dalam bentuk
dan susunannya. Anggaran berisi
rancangan yang dibuat
berdasarkan keahlian dengan pandangan
kemuka yang bijaksana,
karena itu untuk
menciptakan pemerintah
daerah yang baik
untuk melaksanakan otonomi
daerah, maka mutlak diperlukan
anggaran yang baik
pula. Faktor peralatan yang
cukup dan memadai,
yaitu setiap alat
yang dapat digunakan untuk
memperlancar pekerjaan atau
kegiatan pemerintah daerah. Peralatan yang
baik akan mempengaruhi
kegiatan pemerintah daerah
untuk mencapai tujuannya, seperti
alat-alat kantor, transportasi,
alat komunikasi dan
lain-lain. Namun demikian,
peralatan yang memadai
tersebut tergantung pula pada
kondisi keuangan yang
dimiliki daerah, serta
kecakapan dari aparat yang
menggunakannya.
Faktor organisasi dan
manajemen yang baik, yaitu
organisasi yang tergambar dalam struktur
organisasi yang jelas
berupa susunan satuan
organisasi beserta pejabat,
tugas dan wewenang,
serta hubungan satu
sama lain dalam rangka
mencapai tujuan tertentu.
Manajemen merupakan proses
manusia yang menggerakkan tindakan
dalam usaha kerjasama,
sehingga tujuan yang telah
ditentukan dapat dicapai.
Mengenai arti penting
dari manajemen terhadap penciptaan
suatu pemerintahan yang
baik, mamesah (1995) mengatakan bahwa
baik atau tidaknya
manajemen pemerintah daerah tergantung dari
pimpinan daerah yang
bersangkutan, khususnya tergantung kepada Kepala
Daerah yang bertindak
sebagai manajer daerah.
C. Teori Pertumbuhan Wilayah Neoklasik
Teori pertumbuhan wilayah Neoklasik dikembangkan oleh banyak ahli
ekonomi wilayah, terutama Borts pada tahun 1960, Siebert pada tahun 1969, dan
Richardson pada tahun 1973 (Syafrudin A. Tamenggung: 1997)
Menurut teori ini, pertumbuhan
ekonomi wilayah sangat berhubungan dengan tiga faktor penting yaitu: (1) tenaga
kerja, (2) ketersediaan modal, dan (3) kemajuan teknologi. Tingkat dan pertumbuhan faktor-faktor
tersebut akan menentukan tingkat pendapatan dan pertumbuhan ekonomi
wilayah. Teori ini memberikan penjelasan
dasar mengena kesenjangan pendapatan (output)
antar wilayah, baik yang memiliki ketiga faktor dio atas maupun yang
tidak memiliki.
D. Teori Ketidakseimbangan Pertumbuhan Wilayah
Teori ketidakseimbangan pertumbuhan wilayah muncul terutama sebagai
reaksi terhadap konsep kestabilan dan kesimbangan pertumbuhan dari
Neoklasik. Tesis utama dari teori ini
adalah bahwa kekuatan pasar sendisi tidak dapat menghilangkan perbedaan-perbedaan
antar wilayah dalam suatu negara, bahkan sebaliknya kekuatan-kekuatan ini
cenderung akan menimbulkan bahkan memperburuk perbedaan-perbedaan itu
(Syafrudin A. Tamenggung: 1997). Teori ketidakseimbangan pertumbuhan wilayah
lebih jauh dikembangkan oleh Kaldor
pada tahun 1970, dan berdasarkan pandangan Kaldor teori ini diperjelas oleh Dixon dan Thirwall pada tahun 1975 (Syafrudin A.
Tamenggung:1997).
E. Hioptesis U Terbalik dari Kuznets
Hasil pengamatan dari serangkaian data di Amerika Serikat, Jerman, dan
Inggeris, Kuznets menemukan bukti bahwa
proses pertumbuhan melalui perluasan sektor modern yang pada awalnya mengakibatkan peningkatan
perbedaan pendapatan diantara rumah
tangga, kemudian mencapai tingkat pendapatan rata-rata tertentu dan akhirnya
mengalami penurunan. Kuznets menyatakan
bahwa diantara faktor-faktor sosial,
ekonomi, dan politik yang mempengaruhi pola ini, terdapat dua faktor
penting yaitu terpusatnya modal pada sekelompok berpendapatan tinggi dan
pergeseran penduduk dari sektor pertanian tradisional menuju sektor industri modern.
Keadaan ini oleh Kuznets disebut
sebagai hipotesis U terbalik.
Indeks
Ketimpangan
1.00
Pendapatan
per kapita
0.75
0.50
0.25
0.00 Sumber : Todaro: 2000
Dalam penjelasan tentang
faktor pertama, Kuznets mengasumsikan bahwa kelompok pendapatan tinggi memberi
kontribusi modal tabungan yang besar, sementara modal tabungan dari kelompok
lainnya sangat kecil jika dianggap kondisi-kondisi lain adalah sama, perbedaan
kemampuan menabung akan mempengaruhi konsentrasi peningkatan proporsi pemasukan
dalam kelompok pendapatan tinggi. Proses
ini akan menimbulkan dampak akumulatif, yang lebih jauh akan meningkatkan
kesejahteraan kelompok pendapatan tinggi, kemudian akan memperbesar kesenjangan
pendapatan dalam suatu negara.
Penjelasan kedua, timbul akibat pergeseran penduduk dari sektor pedesaan
ke sektor perkotaan. Kesenjangan
pendapatan meningkat karena produktivitas sektor industri perkotaan meningkat
lebih cepat dibanding dengan peningkatan produktivitas sektor pertanian di
pedesaan.
F. Teori Ketimpangan Pendapatan
Wilayah
Setelah munculnya hipotesis Kuznets,
maka perkembangan selanjutnya muncul analisis baru yang dipelopori Williamson,
yang menganalisis hubungan antara distribusi pendapatan dan pertumbuhan ekonomi
pada tingkat regional pada suatu negara.
Williamson menggunakan data tabel silang dari 24 negara dan
menemukan bahwa negara dengan kesenjangan pendapatan wilayah terbesar selalu
diikuti oleh sekelompok negara dengan tingkat pendapatan per kapita menengah,
dimana kesenjangan wilayah yang relatif kecil ditemukan baik di negara yang
pertumbuhan ekonomi yang tinggi maupun negara berkembang.
H. Teori Penahapan: Perspektif Klassik
Pada tahun 1767 Sir James Steuart, menemukan dasar analisis perubahan struktur yang
berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi.
Konsep penahapan pembangunan dari steuart ini dimulai dari satu sektor
ekonomi, dimana keberadaan sektor pertanian sangat dominan dan menentukan
distribusi penduduk secara spatial
Peningkatan produktivitas pertanian mengurangi jumlah tenaga kerja dan
memungkinkan munculnya kegiatan pendukung dan pertambahan penduduk. Pada tahap
kedua pembangunan ekonomi, perekonomian makin beraneka ragam, kegiatan
perdagangan dan jasa yang mendukung sektor pertanian muncul dan menjadi
penting. Pembentukan pola kegiatan
ekonomi baru (seperti perdagangan dan jasa) mendorong pengembangan pola baru
aglomerasi spatial kegiatan non pertanian, yang dikenal sebagai kota kecil dan
kota besar. Tahap berikutnya adalah
munculnya sektor perindustrian sebagai hasil dari peningkatan kebutuhan manusia
dan permintaan baru perumahan dalam kota.
I. Teori Tahap Tinggal Landas
Tahun 1960, W.W. Rostow mengembangkan teori penahapan pembangunan ekonomi. Teori ini menempatkan bermacam-macam isu yang
berkaitan dengan pertumbuhan dan perubahan struktur ekonomi. Rostow mengusulkan lima tahapan pertumbuhan
ekonomi, yaitu (a) masyarakat
tradisional, (b) masa transisi, (c) proses tinggal landas, (d) proses pendewasaan, dan (e) periode masyarakat konsumtif.
Masyarakat tradisional berada dalam kondisi ekuilibrium
statis dimana pertanian merupakan aktivitas dominan. Masa transisi (persiapan tinggal landas)
terjadi secara perlahan khususnya dalam prilaku dan organisasi. Pemikiran peningkatan ekonomi muncul sejalan
dengan berubahnya keka-kuan tradisional menuju mobilitas sosial, geografi, dan
pekerjaan. Fungsi produksi baru
disesuaikan dengan kegiatan pertanian dan industri, tetapi perubahannya tetap
lambat.
III. Metode
Penelitian
A. Data yang digunakan
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
sekunder yang dipublikasikan oleh berbagai instansi pemerintah. Data sekunder yang dipakai adalah data
rangkai masa (time series) dari tahun 2005 hingga 2009. Data yang digunakan meliputi:
1. Laju pertumbuhan PDRB.
2. Jumlah
penduduk per kabupaten/ kota.
3. Pandapatan Asli Daerah dan
Dana Alokasi Umum.
4.
Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) dan data lain yang diperlukan dalam
analisis.
B. Alat Analisis
Alat analisis
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Untuk melihat
seberapa besar tingkat ketergantungan fiskal pemerintah daerah Provinsi Lampung
terhadap pemerintah pusat selama kurun waktu penelitian, Perhitungan
menggunakan rasio DAU terhadap PAD sebagai berikut:
Indeks Ketergantungan : DAU
Dimana :
DAU : Dana Alokasi Umum
PAD : Pendapatan Asli Daerah
Adapun untuk mengetahui seberapa besar
tingkat ketergantungan fiskal digunakan krateria derajad desentralisasi daerah
yang dibuat oleh Badan Litbang Depdagri dan Fisipol UGM (1991) sebagai berikut
:
1. 0,00% sampai dengan 20% Rendah
2. 20,1% sampai dengan 40% Sedang
3. 40,1% sampai dengan 50% Tinggi
Analisis yang digunakan dalam penelitian adalah analisis tentang
pertumbuhan ekonomi daerah, dengan tujuan untuk mengetahui gambaran tentang
pola dan struktur pertumbuhan ekonomi daerah dengan pendekatan model Klassen Typologi dengan rumusan sebagai berikut:
 PDRB
Pertumbuhan
|
Y1 >
Y
|
Y1 <
Y
|
|
r1 >
r
|
Daerah maju dan tumbuh cepat
|
Daerah
berkembang cepat
|
|
r1 <
r
|
Daerah
maju tapi tertekan
|
Daerah
relatif tertinggal
|
Sumber:
Syafrizal, 1997
Dimana :
Y1 : PDRB atas dasar harga konstan 2000
tanpa migas daerah i dalam provinsi Lampung
Y : PDRB
atas dasar harga konstan 2000 tanpa migas rata-rata dalam wilayah provinsi
Lampung
r1 : Laju pertumbuhan PDRB atas dasar
harga konstan 2000 tanpa migas di daerah
i dalam provinsi Lampung
r :Laju
pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan 2000 rata-rata dalam provinsi Lampung
Untuk melihat tingkat
ketimpangan antar daerah digunakan model analisis Indeks
Ketimpangan Regional Williamson. Model
ini menggunakan formulasi untuk melihat tingkat ketimpangan antar daerah
sebagai berikut:
VW =
Ã¥(YI - y )2.fi /n 0 < VW
< 1
Ϋ
Dimana :
Y1
: PDRB per kapita atas harga konstan 2000 tanpa migas, kabupaten/ kota
i di provinsi Lampung
y : PDRB
atas dasar harga konstan 2000 tanpa migas, kabupaten/kota i di provinsi Lampung
Ϋ : PDRB
per kapita atas harga konstan 2000 tanpa migas rata-rata seluruh kabupaten/
kota di provinsi Lampung
fI
: Jumlah penduduk kabupaten/ kota
i di provinsi Lampung
n : Jumlah penduduk total provinsi Lampung
VW : Nilai Indeks Ketimpangan
Williamson
Nilai indeks Williamson antara 0 dan 1, bila nilainya mendekati
1 maka tingkat disparitas pertumbuhan antar daerah sangat tinggi, dan bila mendekati nol maka menunjukkan
disparitas pertumbuhan antar daerah yang
rendah.
IV. Hasil dan Pembahasan
Penelitian
ini hanya menggunakan 10 dari 14 kabupaten/Kota dan sementara 4
kabupaten/kota tidak dapat diteliti
Karena Seperti diketahui terdapat beberapa kabupaten di Provinsi
Lampung yang baru dimekarkan antara tahun 2008 sampai 2010, seperti Kabupaten
Pringsewu (2008), Pesawaran (2009), Tulang Bawang Barat (2010), dan Mesuji
(2010) Oleh sebab itu dalam penelitian
ini keempat kabupaten tersebut tidak akan dijadikan sampel penelitian. Hal ini mengingat kelengkapan data yang belum
tersedia.
A. Indeks ketergantungan Masing-masing Kabupaten/kota dengan pemerintah pusat yang
cukup tinggi.
Indeks ketergantungan ini dihitung menggunakan Dana Alokasi Umum (DAU) terhadap Pendapatan
asli daerah (PAD), Semakin tinggi kemandirian suatu daerah menunjukan bahwa
daerah tersebut semakin mampu membiayai pengeluarannya sendiri tanpa bantuan
pemerintah pusat. Hasil perhitungan Indeks ketergantungan tahun 2005-2009 di
seluruh kabupaten/ kota di propinsi Lampung adalah sebagai berikut:
Dari hasil perhitungan nampak bahwa Kabupaten
Lampung Barat masih memiliki tingkat ketergantungan yang sangat tinggi terhadap
pemerintah pusat untuk memenuhi kebutuhan daerahnya yang terjadi selama 5 tahun
terakhir dengan rata-rata indeks ketergantungan 2,23% yang termasuk taraf
rendah. Kabupaten Tanggamus juga demikian termasuk dalam indeks
ketergantungan taraf rendah yang dibuktikan oleh Indeks Ketergantungan
dengan rata-rata 3,46%. Kabupaten
Lampung Selatan juga termasuk dalam taraf rendah dengan rata-rata 2,33% selama
5 tahun terakhir. Kabupaten Lampung
Timur juga termasuk dalam kategori taraf rendah dengan Indeks
Ketergantungan rata-rata 2,59% selama 5
tahun terakhir. Kabupaten Lampung Tengah
juga demikian dengan indeks Ketergantungan rata-rata 3,52% selama 5 tahun terakhir.
Kabupaten Lampung Utara juga masih memiliki tingkat ketergantungan
yang sangat tinggi terhadap pemerintah pusat untuk memenuhi kebutuhan daerahnya rata-rata 2,99%. Sedangkan untuk Kabupaten Way Kanan
memiliki rata-rata 3,17%. kabupaten Tulangbawang rata-rata 3,79%. kota
Bandarlampung dengan rata-rata 0,76% termasuk dalam kategori taraf rendah juga
memiliki tingkat ketergantungan pada pemerintah pusat yang cukup tinggi, dan
Kota Metro dengan rata-rata 1,01% juga termasuk taraf rendah dan masih memiliki
tingkat ketergantungan yang cukup besar kepada pemerintah pusat. Dari perhitungan angka Indeks Ketergantungan
di atas nampak bahwa provinsi Lampung masih memiliki tingkat ketergantungan
yang sangat tinggi terhadap pemerintah pusat untuk memenuhi kebutuhan
daerahnya. Sedangkan tujuan dari otonomi daerah supaya kabupaten/kota dapat
menggali sendiri potensi yang dimilikinya untuk memenuhi kebutuhan daerah dan
tidak bergantung lagi kepada pemerintah pusat. Ciri utama yang menunjukkan
suatu daerah otonom mampu berotonomi terletak pada kemampuan keuangan daerah.
Artinya daerah otonom harus mampu memiliki kewenangan dan kemampuan untuk
menggali sumber keuangannya sendiri, mengelola dan menggunakan keuangan sendiri
yang cukup memadai untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerahnya.
Untuk mengatasi hal ini maka daerah perlu untuk meningkatkan kualitas sumber
daya manusia yang dimilikinya guna memaksimalkan pengelolaan potensi-potensi
daerah sehingga menghasilkan pendapatan asli daerah yang dapat membantu daerah
mengurangi ketergantungannya pada pemerintah pusat.
B. Hasil Uji Klassen Typology
Berdasarkan
klasifikasi pertumbuhan ekonomi Klassen
Typology pada masing-masing kabupaten/ kota di Provinsi Lampung Diperoleh
hasil sebagai berikut:
Dari hasil perhitungan nampak bahwa Kabupaten Lampung Barat pada awalnya tahun 2005 termasuk dalam klasifikasi daerah yang berkembang cepat dengan laju
pertumbuhan 4,73%. Namun dalam
waktu tiga tahun
terakhir telah berubah menjadi daerah yang Tertinggal dengan laju pertumbuhan 3,50%, 5,88%, dan 5,09%, dan pada
tahun 2009 kembali dalam klarifikasi daerah yang Berkembang Cepat dengan laju
pertumbuhan 5,64%. Sedangkan kabupaten Tanggamus selama lima tahun terakhir (2005 hingga 2009) termasuk dalam klasifikasi Daerah berkembang Cepat dengan
rata-rata laju pertumbuhan 5,982%%,
meskipun pada tahun-tahun sebelumnya merupakan daerah yang Tertinggal. Kabupaten Lampung Selatan juga termasuk dalam klasifikasi
Daerah berkembang cepat saat
tahun 2005 yaitu 4,30% dan 2006 yaitu 4,95%, meskipun tiaga tahun kedepan merupakan
klasifikasi Daerah Tertinggal
dengan laju pertumbuhan 4,75%, 5,13%, 5,14%.
Kabupaten Lampung Timur pada tahun 2005-2009 merupakan daerah yang Relatif
tertinggal dengan
rata-rata laju pertumbuhannya 3,09%. Berbalik dengan halnya Kabupaten Lampung Tengah yang lima tahun terakhir
ini merupakan Daerah yang Berkembang Cepat dengan laju pertumbuhan 5,758%. Kabupaten Lampung Utara, termasuk dalam
klasifikasi Daerah berkembang cepat pada tahun 2005 hingga 2007 yaitu dengan laju pertumbuhan 4,80%,
5,79%, 6,27%, namun tahun
2008 dalam klasifikasi daerah Tertinggal dengan laju pertumbuhanya 5,56% dan saat tahun 2009 kembali dalam
kategori daerah yang Berkembang Cepat yaitu 6,84%. Kabupaten Way Kanan tahun
2005-2009 menurut pendekatan Klassen merupakan Daerah Tertinggal yang
ditunjukkan oleh koefisien Typology Klassen yang dihitung berdasarkan laju
pertu mbuhan dan PDRB dengan rata-rata pertumuhannya 4,57%. Kabupaten Tulang Bawang dan Kota Bandarlampng
menurut klasifikasi ini termasuk dalam kategori Daerah berkembang cepat dengan rata-rata laju pertumbuhan
6,284%, dibanding dengan
kabupaten lainnya. Sedangkan Kota Metro sejak tahun 2005 hingga 2007 termasuk
dalam klasifikasi Daerah Berkembang Cepat dengan laju pertumbuhan 4,43%, 5,70%, 6,24%, namun pada 2008 dan 2009 termasuk dalam
klasifikasi Daerah Tertinggal yaitu dengan laju pertumbuhan 5,21% dan 5,37%.
Meskipun
pendekatan Klassen ini memiliki kelemahan dimana analisisnya sangat makro,
tetapi paling tidak pendekatan Klassen ini dapat memberikan gambaran tentang
perkembangan suatu daerah (kabupaten/ kota).
C. Koefisien
Indeks Williamson
Indeks Williamson dihitung dengan pendekatan PDRB per
kapita dari masing-masing kabupaten/ kota tang ada di propinsi Lampung. Jika koefisien indeksnya mendekati angka 1
(satu) maka terjadi disparitas pertumbuhan antar daerah yang tinggi. Sebaliknya jika mendekati angka 0 (nol)
berarti tingkat disparitas pertumbuhan antar daerah rendah. Hasil perhitungan
indeks Williamson antara tahun 2005 hingga 2009 di seluruh kabupaten/ kota di
propinsi Lampung adalah sebagai berikut:
Dari hasil perhitungan nampak bahwa di Kabupaten
Lampung Barat disparitas pertumbuhan yang terjadi selama 5 tahun terakhir
termasuk dalam taraf rendah dibanding dengan daerah lain. Hal ini dibuktikan
dengan indeks Williamson yang mendekati angka nol, selama 5 tahun terakhir
rata-rata 0,014. Kabupaten Tanggamus
juga demikian termasuk dalam ketimpangan taraf rendah yang dibuktikan oleh
koefisien Indeks Williamson yang mendekati angka nol rata-rata 0,025. Kabupaten
Lampung Selatan dengan rata-rata 0,026 (mendekati nol) maka terjadi ketimpangan yang rendah yaitu terjadinya pertumbuhan ekonomi antara daerah yang mulai merata. selama 5 tahun terakhir.
Kabupaten Lampung Timur memiliki ketimpangan williamson sebesar 0,51 (mendekati 1), maka berdasarkan
ketentuan ketimpangan williamson masih terjadi ketimpangan pertumbuhan yang
tinggi yaitu terjadinya pertumbuhan ekonomi antara daerah yang tidak merata selama 5 tahun terakhir.
Kabupaten Lampung Tengah juga demikian dengan indeks Williamson rata-rata
0,037 yang (mendekati nol) maka terjadi ketimpangan yang rendah yaitu terjadinya pertumbuhan
ekonomi antara daerah yang mulai merata selama 5 tahun terakhir. Kabupaten Lampung Utara rata-rata 0,027 terjadi ketimpangan yang rendah yaitu terjadinya pertumbuhan ekonomi antara daerah yang mulai merata selama 5 tahun terakhir. Untuk Kabupaten Way Kanan memiliki ketimpangan williamson sebesar 0,014 ( mendekati 0), maka terjadinya pertumbuhan ekonomi antara
daerah yang mulai merata. kabupaten Tulangbawang memiliki ketimpangan williamson sebesar 0,017 ( mendekati 0), terjadi ketimpangan pertumbuhan yang rendah maka pertumbuhan ekonomi antara daerah yang mulai merata. kota Bandarlampung memiliki ketimpangan williamson sebesar 0,088 (mendekati 1), maka berdasarkan
ketentuan ketimpangan williamson masih terjadi ketimpangan pertumbuhan yang
tinggi yaitu terjadinya pertumbuhan ekonomi antara daerah yang tidak merata selama 5 tahun terakhir. dan Kota Metro memiliki
ketimpangan sebesar 0,053 (mendekati 1) maka terjadi ketimpangn pertumbuhan
yang tinggi artinya terjadi pertumbuhan ekonomi yang tidak merata. Dari perhitungan angka Indeks Williamson di
atas nampak bahwa propinsi Lampung memiliki tingkat disparitas pertumbuhan
antar daerah yang rendah.
Di lihat
dari besaran pendapatan perkapita nampak bahwa Kota Bandarlampung menempati
urutan pertama dengan pendapatan perkapita
rata-rata 6.478.575 juta rupiah pertahun selama lima tahun terakhir. Selanjutnya disusul oleh kabupaten Tulang
Bawang dengan nilai rata-rata 5.218.959 juta rupiah pertahun selama 5 tahun terakhir. Urutan ketiga ditempati oleh kabupaten
Lampung Utara dengan nilai rata-rata 5.000.430 juta rupiah pertahun selama 5 tahun terakhir. Urutan keempat adalah kabupaten Lampung
Tengah dengan nilai rata-rata 4.618.089 juta rupiah pertahun. Urutan kelima adalah Kabupaten
Lampung Timur dengan nilai rata-rata 4.066.095 juta rupiah pertahun. Urutan keenam adalah kabupaten
Lampung Selatan dengan nilai 3.858.815
juta rupiah pertahun. Urutan ketujuh adalah kabupaten Tanggamus dengan tingkat
pendapatan per kapita rata-rata 3.913789
juta rupiah, kabupaten Tanggamus dengan pendapatan rata-rata 3.585.543 juta rupiah pertahun.
Urutan kedelapan dengan rata-rata 3.471.292 adalah Kota Metro, urutan kesembilan
adalah Kabupaten Lampung Barat dengan rata-rata 3.184.630 dan kabupaten Way
Kanan rata-rata 3.123.481 juta rupiah per tahun.
Besaran pendapatan perkapita ini
menunjukkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang diukur dengan daya beli yang
dimiliki. Dengan demikian berdasarkan
data di atas nampak Kota Bandarlampung merupakan daerah yang paling sejahtera
dibanding dengan daerah lain di provinsi Lampung. Sebaliknya kabupaten Lampung Barat merupakan
daerah yang lebih miskin dibanding dengan daerah lain/ kabupaten lain. Meskipun
pendapatan per kapita sebagai indikator banyak memiliki kelemahan, namun dari
gambaran di atas paling tidak dapat dijadikan acuan bagi daerah yang
bersangkutan untuk merumuskan kebijakan pembangunan di masa yang akan
Dilihat dari tingkat pertumbuhan
ekonomi masing-masing kabupaten/ kota di propinsi Lampung, maka kabupaten
Tulangbawang menempati urutan pertama dengan rata-rata pertumbuhan 6,28 persen
selama 5 tahun terakhir, dususul kemudian Kota Bandarlampung dengan laju
pertumbuhan rata-rata 6,19 persen pertahun. Kabupaten Tanggamus rata-rata
pertumbuhan ekonominya 5,98 persen per tahun, sedangkan Kabupaten Lampung
Tengah rata-rata pertumbuhannya 5,75 persen pertahun selama 5 tahun
terakhir. Kabupaten Lampung Utara
rata-ratanya 5,65 persen. Kota Metro laju pertumbuhan PDRBnya rata-rata 5,37
persen pertahun. Kabupaten Lampung Barat rata-rata pertumbuhannya 4,96. Lampung
Selatan rata-rata 4,85 persen pertahun, Way Kanan rata-rata 4,57 persen
pertahun, dan Kabupaten Lampung Timur rata-rata 3,09 persen pertahun.
Gambaran tentang laju pertumbuhan ekonomi masing-masing
kabupaten/ kota di propinsi Lampung menunjukkan ketimpangan dalam
pembangunan. Keterlambatan dalam memacu
pertumbuhan ekonomi suatu daerah disebabkan banyak faktor, diantaranya
ketersediaan modal, manajemen pengelolaan sumberdaya yang tidak tepat, dan
bahkan kekeliruan dalam menentukan prioritas pembangunan. Oleh karenya perlu pengkajian secara akurat
tentang sektor-sektor ekonomi yang menjadi andalan (leading sector) dari daerah yang bersangkutan.
V. Kesimpulan dan Saran
A. Simpulan
Berdasarkan data dan analisa
pada bab sebelumnya, dan analisa terhadap permasalahan yang ada, maka dapat
ditarik kesimpulan :
1. Dilihat dari Indeks Ketergantungan, maka seluruh Kabupaten/kota di
Provinsi Lampung memiliki rata-rata 2,58% yang artinya Provinsi Lampung masih
memiliki tingkat ketergantungan yang sangat tinggi terhadap pemerintah pusat
untuk memenuhi kebutuhan daerahnya.
2. Berdasarkan klasifikasi Klassen Typology
terdapat beberapa kabupaten yang tergolong tertinggal yaitu Kabupaten Lampung
Timur dan Kabupaten Way Kanan. Sedangkan Kabupaten/kota lain termasuk dalam
kategori berkembang cepat.
3. Dilihat dari Indeks Ketimpangan Regional
Williamson tingkat Disparitas pendapatan antar daerah dalam wilayah Provinsi
Lampung termasuk dalam taraf rendah yaitu dengan rata-rata 0,035.
4. Dilihat dari tingkat pendapatan perkapita,
maka Kota Bandarlampung merupakan daerah yang paling tinggi pendapatan
perkapitanya rata-rata 6.478.575 juta rupiah
pertahun selama lima tahun terakhir dan Kabupaten yang paling rendah tingkat
pendapatan perkapitanya adalah Kabupaten Way Kanan yaitu dengan rata-rata 3.123.481 juta rupiah per tahun
selama lima tahun terakhir.
5. Dilihat dari laju pertmbuhan ekonominya,
maka Kabupaten Tulang Bawang menempati urutan pertama yaitu dengan rata-rata pertumbuhan 6,28 persen selama 5
tahun terakhir, dan Kabupaten Lampung Timur merupakan daerah dengan
pertumbuhan paling rendah dengan rata-rata 3,09 persen pertahun.
B. Saran
1. Pemerintah Provinsi Lampung harus
membantu pengembangan wilayah yang tergolong tertinggal, seperti Kabupaten
Lampung Timur dan Kabupaten Way Kanan.
2. Pemerintah Provinsi Lampung harus
bisa memberdayakan semua sumberdaya yang dimiliki agar Pendapatan Asli Daerah
meningkat. Sehingga ketergantungan dengan pemerintah pusat untuk memenuhi
kebutuhan daerah semakin berkurang dan pemerintah juga harus lebih meningkatkan
Pendapatan Asli Daerah melalui semua sector-sektor Pendapatan yang dimiliki
oleh daerah, Sehingga untuk memenuhi kebutuhan Belanja Daerah tidak lagi
mengandalkan Transfer Dana Alokasi Umum dari pemerintah pusat.
DAFTAR PUSTAKA
A. Tamenggung, Sjafrudin, 1997. Paragdima Ekonomi Wilayah: Tinjauan Teori
dan Praktis Ekonomi Wilayah dan I mplikasi Kebijakan Pembangunan, Perencanaan
Pembangunan di Indonesia, Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta
Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Dalam Negeri RI dan Fisipol
UGM, 1991. Pengukuran
Kemampuan Daerah Tingkat II Dalam Rangka Otonomi Daerah yang Nyata dan
Bertanggungjawab. Jakarta
Dr. Mardiasmo, MBA, Akt, 2002. Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah.
Penerbit Andi Yogyakarta.
Julia Panglima Saragih, 2003. Desentralisasi Fiskal dan Keuangan Daerah
dalam Otonomi. Penerbit Ghalia Indonesia 2003.
Kaho, 1998. Implikasi
Tentang Kewewenangan Pemerintah Kepada Daerah dalam Rangka Otonomi Daerah,
Disentralisasi di Indonesia
Kuncoro, Mudrajat Ph.D. 2004. Otonomi
Dan Pembangunan Daerah. Edisi 5 Erlangga,
Surabaya
Lincolin Arsyad, Edisi Pertama, 1999. Pengantar Perencanaan dan Pembangunan
Ekonomi Daerah. Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada. BPFE
Yogyakarta
Suparmoko, 2002. Ekonomi Publik Untuk Keuangan dan Pembangunan Daerah. Andi.
Yogyakarta
Syafrizal, 1997. Pertumbuhan Ekonomi dan Ketimpangan Regional Wilayah Indonesia Bagian
Barat, Prisma, No.3.
Todaro, 2000. Pendapatan Perkapita, Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi
Daerah, Yogyakarta BPFE.
Tambunan, Tulus, 2001. Transformasi Ekonomi di Indonesia, Salemba Empat, Jakarta.
Undang-undang, 1999. UU no.22 tahun 1999, Tentang Otonomi Daerah, Sejahtera
Mandiri, Jakarta.
Lampiran
Hasil Perhitungan Indeks Ketergantungan Kabupaten/kota di Provinsi Lampung
dengan pemerintah pusat yang cukup tinggi.
|
Kabupaten/kota
|
DAU
|
PAD
|
DAU/PAD X 100 %
|
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
Kab. Lampung Barat
|
|
|
|
|
2005
|
165.705
|
6.197.941
|
2,67
|
|
2006
|
259.182
|
11.215.887
|
2,31
|
|
2007
|
288.264
|
12.341.412
|
2,33
|
|
2008
|
325.662
|
17.198.782
|
1,89
|
|
2009
|
335.371
|
16.812.754
|
1,99
|
|
2005-2009
|
|
|
2,23
|
|
Kab. Tanggamus
|
|
|
|
|
2005
|
285.091
|
10.872.112
|
2,62
|
|
2006
|
448.288
|
15.038.624
|
2,98
|
|
2007
|
495.346
|
13.139.814
|
3,76
|
|
2008
|
542.095
|
15.314.297
|
3,53
|
|
2009
|
567.326
|
12.812.473
|
4,42
|
|
2005-2009
|
|
|
3,46
|
|
Kab. Lampung Selatan
|
|
|
|
|
2005
|
337.196
|
15.937.350
|
2,11
|
|
2006
|
532.654
|
19.101.375
|
2,78
|
|
2007
|
600.921
|
24.459.293
|
2,45
|
|
2008
|
658.044
|
25.572.135
|
2,57
|
|
2009
|
444.678
|
25.030.107
|
1,77
|
|
2005-2009
|
|
|
2,33
|
|
Kab. Lampung Timur
|
|
|
|
|
2005
|
282.847
|
7.499.519
|
3,77
|
|
2006
|
445.967
|
16.137.121
|
2,76
|
|
2007
|
487.543
|
30.311.592
|
1,6
|
|
2008
|
529.485
|
26.645.226
|
1,98
|
|
2009
|
537.546
|
18.821.941
|
2,85
|
|
2005-2009
|
|
|
2,59
|
|
Kab. Lampung Tengah
|
|
|
|
|
2005
|
331.429
|
11.101.704
|
2,98
|
|
2006
|
549.303
|
14.215.610
|
3,86
|
|
2007
|
599.805
|
11.726.363
|
5,11
|
|
2008
|
669.103
|
22.837.755
|
2,92
|
|
2009
|
669.123
|
24.471.464
|
2,73
|
|
2005-2009
|
|
|
3,52
|
|
Kab. Lampung Utara
|
|
|
|
|
2005
|
225.963
|
8.489.554
|
2,66
|
|
2006
|
368.683
|
11.406.398
|
3,23
|
|
2007
|
395.803
|
15.307.800
|
2,58
|
|
2008
|
440.124
|
16.531.831
|
2,66
|
|
2009
|
454.525
|
11.794.023
|
3,85
|
|
2005-2009
|
|
|
2,99
|
|
Kab. Way Kanan
|
|
|
|
|
2005
|
154.732
|
2.585.982
|
5,98
|
|
2006
|
233.913
|
8.550.637
|
2,73
|
|
2007
|
274.211
|
12.026.212
|
2,28
|
|
2008
|
297.523
|
14.476.073
|
2,05
|
|
2009
|
327.284
|
11.481.911
|
2,85
|
|
2005-2009
|
|
|
3,17
|
|
Kab. Tulang Bawang
|
|
|
|
|
2005
|
224.124
|
5.313.907
|
4,21
|
|
2006
|
362.113
|
8.340.166
|
4,34
|
|
2007
|
400.619
|
19.763.703
|
2,02
|
|
2008
|
450.771
|
10.437.542
|
4,31
|
|
2009
|
464.061
|
11.396.155
|
4,07
|
|
2005-2009
|
|
|
3,79
|
|
Kota Bandar Lampung
|
|
|
|
|
2005
|
264.151
|
46.513.716
|
0,56
|
|
2006
|
421.911
|
46.137.259
|
0,91
|
|
2007
|
464.191
|
53.714.914
|
0,86
|
|
2008
|
509.474
|
67.661.519
|
0,75
|
|
2009
|
528.637
|
70.432.263
|
0,75
|
|
2005-2009
|
|
|
0,76
|
|
Kota Metro
|
|
|
|
|
2005
|
121.947
|
12.899.125
|
0,94
|
|
2006
|
178.609
|
17.543.355
|
1,01
|
|
2007
|
202.405
|
20.089.524
|
1
|
|
2008
|
208.068
|
19.980.632
|
1,04
|
|
2009
|
227.349
|
21.060.409
|
1,07
|
|
2005-2009
|
|
|
1,01
|
Sumber: Data diolah
Klasifikasi Karakteristik Pertumbuhan
Ekonomi Daerah Menurut Klassen Typology.
|
Kabupaten/kota
|
PDRB
(Rp)
|
Pertumbuhan
(ri)
|
Lampung
PDRB (Rp)
|
Pertumbuhan
(r)
|
Keterangan
|
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
|
Kab.
Lampung Barat
|
|
|
|
|
|
|
2005
|
1173546
|
4,73
|
28744771
|
4,18
|
Berkembang
Cepat
|
|
2006
|
1214618
|
3,50
|
30662322
|
4,9
|
Relatif
Tertinggal
|
|
2007
|
1286046
|
5,88
|
32566980
|
6,08
|
Relatif
Tertinggal
|
|
2008
|
1351526
|
5,09
|
34479251
|
5,65
|
Relatif
Tertinggal
|
|
2009
|
1427754
|
5,64
|
36504528
|
5,57
|
Berkembang
Cepat
|
|
Kab.
Tanggamus
|
|
|
|
|
|
|
2005
|
2738598
|
4,56
|
28744771
|
4,18
|
Berkembang
Cepat
|
|
2006
|
2888646
|
5,48
|
30662322
|
4,9
|
Berkembang
Cepat
|
|
2007
|
3111602
|
7,72
|
32566980
|
6,08
|
Berkembang
Cepat
|
|
2008
|
3309364
|
6,36
|
34479251
|
5,65
|
Berkembang
Cepat
|
|
2009
|
2172814
|
5,79
|
36504528
|
5,57
|
Berkembang
Cepat
|
|
Kab.
Lampung Selatan
|
|
|
|
|
|
|
2005
|
4159094
|
4,30
|
28744771
|
4,18
|
Berkembang
Cepat
|
|
2006
|
3492899
|
4,95
|
30662322
|
4,9
|
Berkembang
Cepat
|
|
2007
|
3685296
|
4,75
|
32566980
|
6,08
|
Relatif
Tertinggal
|
|
2008
|
3874487
|
5,13
|
34479251
|
5,65
|
Relatif
Tertinggal
|
|
2009
|
4109151
|
5,14
|
36504528
|
5,57
|
Relatif
Tertinggal
|
|
Kab.
Lampung Timur
|
|
|
|
|
|
|
2005
|
3536920
|
0,14
|
28744771
|
4,18
|
Relatif
Tertinggal
|
|
2006
|
3591362
|
1,54
|
30662322
|
4,9
|
Relatif
Tertinggal
|
|
2007
|
3751659
|
4,46
|
32566980
|
6,08
|
Relatif
Tertinggal
|
|
2008
|
3947097
|
5,21
|
34479251
|
5,65
|
Relatif
Tertinggal
|
|
2009
|
4119786
|
4,38
|
36504528
|
5,57
|
Relatif
Tertinggal
|
|
Kab.
Lampung Tengah
|
|
|
|
|
|
|
2005
|
4676249
|
5,17
|
28744771
|
4,18
|
Berkembang
Cepat
|
|
2006
|
4948566
|
5,82
|
30662322
|
4,9
|
Berkembang
Cepat
|
|
2007
|
5255606
|
6,20
|
32566980
|
6,08
|
Berkembang
Cepat
|
|
2008
|
5553010
|
5,66
|
34479251
|
5,65
|
Berkembang
Cepat
|
|
2009
|
5883047
|
5,94
|
36504528
|
5,57
|
Berkembang
Cepat
|
|
Kab.
Lampung Utara
|
|
|
|
|
|
|
2005
|
2539596
|
4,80
|
28744771
|
4,18
|
Berkembang
Cepat
|
|
2006
|
2686696
|
5,79
|
30662322
|
4,9
|
Berkembang
Cepat
|
|
2007
|
2855121
|
6,27
|
32566980
|
6,08
|
Berkembang
Cepat
|
|
2008
|
3013912
|
5,56
|
34479251
|
5,65
|
Relatif
Tertinggal
|
|
2009
|
3194206
|
6,84
|
36504528
|
5,57
|
Berkembang
Cepat
|
|
Kab.
Way Kanan
|
|
|
|
|
|
|
2005
|
1111129
|
4,13
|
28744771
|
4,18
|
Relatif
Tertinggal
|
|
2006
|
1156013
|
4,04
|
30662322
|
4,9
|
Relatif
Tertinggal
|
|
2007
|
1219881
|
5,52
|
32566980
|
6,08
|
Relatif
Tertinggal
|
|
2008
|
1284101
|
4,74
|
34479251
|
5,65
|
Relatif
Tertinggal
|
|
2009
|
1337655
|
4,69
|
36504528
|
5,57
|
Relatif
Tertinggal
|
|
Kab.
Tulang Bawang
|
|
|
|
|
|
|
2005
|
3604548
|
4,86
|
28744771
|
4,18
|
Berkembang
Cepat
|
|
2006
|
3816363
|
5,88
|
30662322
|
4,9
|
Berkembang
Cepat
|
|
2007
|
4080743
|
6,93
|
32566980
|
6,08
|
Berkembang
Cepat
|
|
2008
|
4357202
|
6,77
|
34479251
|
5,65
|
Berkembang
Cepat
|
|
2009
|
2313314
|
6,98
|
36504528
|
5,57
|
Berkembang
Cepat
|
|
Kota
Bandar Lampung
|
|
|
|
|
|
|
2005
|
4778188
|
5,03
|
28744771
|
4,18
|
Berkembang
Cepat
|
|
2006
|
5079047
|
6,30
|
30662322
|
4,9
|
Berkembang
Cepat
|
|
2007
|
5426158
|
6,83
|
32566980
|
6,08
|
Berkembang
Cepat
|
|
2008
|
5795523
|
6,81
|
34479251
|
5,65
|
Berkembang
Cepat
|
|
2009
|
6151069
|
6,01
|
36504528
|
5,57
|
Berkembang
Cepat
|
|
Kota
Metro
|
|
|
|
|
|
|
2005
|
426899
|
4,43
|
28744771
|
4,18
|
Berkembang
Cepat
|
|
2006
|
451254
|
5,70
|
30662322
|
4,9
|
Berkembang
Cepat
|
|
2007
|
479394
|
6,24
|
32566980
|
6,08
|
Berkembang
Cepat
|
|
2008
|
504361
|
5,21
|
34479251
|
5,65
|
Relatif
Tertinggal
|
|
2009
|
531502
|
5,37
|
36504528
|
5,57
|
Relatif
Tertinggal
|
Sumber: Data diolah
Hasil Perhitungan Indeks Williamson Pendapatan Antar Kabupaten/kota di
Provinsi Lampung.
|
Kabupaten/kota
|
PDRB
Perkapita
|
Lampung
PDRB (Rp)
|
Peduduk
Fi
|
Penduduk
n
|
I W
|
|
|
Yi
(Rupiah)
|
Ϋ
(Rupiah)
|
(Orang)
|
(Orang)
|
Vw
|
|
1
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
|
Kab.
Lampung Barat
|
|
|
|
|
|
|
2005
|
2968837
|
3881210,4
|
395288
|
7172831
|
0,012
|
|
2006
|
3035861
|
3954699,7
|
400090
|
7260588
|
0,012
|
|
2007
|
3176143
|
4289484,3
|
404908
|
6946455
|
0,015
|
|
2008
|
3298496
|
4466618,4
|
409740
|
7048125
|
0,015
|
|
2009
|
3443814
|
4710943,3
|
414585
|
6334826
|
0,017
|
|
2005-2009
|
15923151
|
4260591,22
|
2024611
|
|
0,014
|
|
Kab.
Tanggamus
|
|
|
|
|
|
|
2005
|
3195369
|
3881210,4
|
857052
|
7172831
|
0,021
|
|
2006
|
3335025
|
3954699,7
|
866154
|
7260588
|
0,022
|
|
2007
|
3554995
|
2489484,3
|
875276
|
6946455
|
0,053
|
|
2008
|
3741850
|
4466618,4
|
884419
|
7048125
|
0,020
|
|
2009
|
4100476
|
4710943,3
|
529893
|
6334826
|
0,010
|
|
2005-2009
|
17927715
|
|
4012794
|
|
0,025
|
|
Kab.
Lampung Selatan
|
|
|
|
|
|
|
2005
|
3382895
|
3881210,4
|
1229448
|
7172831
|
0,022
|
|
2006
|
2803431
|
3954699,7
|
1245937
|
7260588
|
0,049
|
|
2007
|
4196505
|
2489484,3
|
878182
|
6946455
|
0,015
|
|
2008
|
4353904
|
4466618,4
|
889888
|
7048125
|
0,018
|
|
2009
|
4557342
|
4710943,3
|
901655
|
6334826
|
0,026
|
|
2005-2009
|
19294077
|
|
5145010
|
|
0,026
|
|
Kab.
Lampung Timur
|
|
|
|
|
|
|
2005
|
3854894
|
3881210,4
|
917514
|
7172831
|
0,047
|
|
2006
|
3884460
|
3954699,7
|
924546
|
7260588
|
0,072
|
|
2007
|
4027398
|
2489484,3
|
931534
|
6946455
|
0,082
|
|
2008
|
4205858
|
4466618,4
|
938476
|
7048125
|
0,045
|
|
2009
|
4357869
|
4710943,3
|
945367
|
6334826
|
0,011
|
|
2005-2009
|
20330479
|
|
4657437
|
|
0,051
|
|
Kab.
Lampung Tengah
|
|
|
|
|
|
|
2005
|
4187826
|
3881210,4
|
1116629
|
7172831
|
0,012
|
|
2006
|
4388361
|
3954699,7
|
1127657
|
7260588
|
0,017
|
|
2007
|
4615533
|
2489484,3
|
1138678
|
6946455
|
0,064
|
|
2008
|
4830052
|
4466618,4
|
1149679
|
7048125
|
0,013
|
|
2009
|
5068677
|
4710943,3
|
1160667
|
6334826
|
0,013
|
|
2005-2009
|
23090449
|
|
5693310
|
|
0,023
|
|
Kab.
Lampung Utara
|
|
|
|
|
|
|
2005
|
4519215
|
3881210,4
|
561955
|
7172831
|
0,012
|
|
2006
|
4742271
|
3954699,7
|
566542
|
7260588
|
0,015
|
|
2007
|
4999275
|
2489484,3
|
571107
|
6946455
|
0,082
|
|
2008
|
5235685
|
4466618,4
|
575648
|
7048125
|
0,014
|
|
2009
|
5505704
|
4710943,3
|
580163
|
6334826
|
0,015
|
|
2005-2009
|
25002150
|
|
2855415
|
|
0,027
|
|
Kab.
Way Kanan
|
|
|
|
|
|
|
2005
|
2921156
|
3881210,4
|
380373
|
7172831
|
0,013
|
|
2006
|
2998308
|
3954699,7
|
385555
|
7260588
|
0,012
|
|
2007
|
3121768
|
2489484,3
|
390766
|
6946455
|
0,014
|
|
2008
|
3242638
|
4466618,4
|
396005
|
7048125
|
0,015
|
|
2009
|
3333536
|
4710943,3
|
401272
|
6334826
|
0,018
|
|
2005-2009
|
15617406
|
|
2344737
|
|
0,014
|
|
Kab.
Tulang Bawang
|
|
|
|
|
|
|
2005
|
4710085
|
3881210,4
|
765283
|
7172831
|
0,022
|
|
2006
|
4897457
|
3954699,7
|
779254
|
7260588
|
0,025
|
|
2007
|
5143141
|
2489484,3
|
793434
|
6946455
|
0,012
|
|
2008
|
5393711
|
4466618,4
|
807830
|
7048125
|
0,014
|
|
2009
|
5950402
|
4710943,3
|
388766
|
6334826
|
0,016
|
|
2005-2009
|
26094796
|
|
3534567
|
|
0,017
|
|
Kota
Bandar Lampung
|
|
|
|
|
|
|
2005
|
5849973
|
3881210,4
|
816788
|
7172831
|
0,057
|
|
2006
|
6120934
|
3954699,7
|
829783
|
7260588
|
0,062
|
|
2007
|
6577990
|
2489484,3
|
824896
|
6946455
|
0,037
|
|
2008
|
6769474
|
4466618,4
|
856126
|
7048125
|
0,062
|
|
2009
|
7074504
|
4710943,3
|
869470
|
6334826
|
0,068
|
|
2005-2009
|
32392875
|
|
4197063
|
|
0,057
|
|
Kota
Metro
|
|
|
|
|
|
|
2005
|
3221854
|
3881210,4
|
132501
|
7172831
|
0,045
|
|
2006
|
3340889
|
3954699,7
|
135070
|
7260588
|
0,042
|
|
2007
|
3482095
|
2489484,3
|
137674
|
6946455
|
0,054
|
|
2008
|
3594516
|
4466618,4
|
140314
|
7048125
|
0,058
|
|
2009
|
3717109
|
4710943,3
|
142988
|
6334826
|
0,068
|
|
2005-2009
|
17356463
|
|
688547
|
|
0,053
|
Sumber : Data
diolah