Suatu hari bila kau merasa
rasa ini tak lagi sama. Jangan salahkan aku! Aku sengaja membunuhnya. Aku
sengaja meracuninya. Karena, ku pikir tak ada gunanya ia hidup dan terus
berkembang tanpa masa depan. Aku menaruh masa depan di kamu, sementara kau pikir
ia hanya benalu. Biar saja ia mati, karena mungkin memang selayaknya rasa yang
tak tahu diri itu pergi dari muka bumi ini. Berlalu bersama hal-hal yang pernah
ia cita kan, karena memang sepertinya cinta tak ia dapatkan.
Jangan sesalkan aku, karena
aku juga tak ingin kau menyesal. Bukankah penyesalan hanyalah kegiatan membuang
apa-apa yang sudah terbuang?. Sudahlah, biar saja semuanya benar-benar punah.
Segala yang tumbuh di hatiku, sudah ku hanguskan dengan marah yang ku lahirkan
dari kepalaku. Bukan benci kepadamu, aku hanya benci kenapa aku membiarkan
hatiku jatuh terlalu mendasar kepadamu. Aku benci kepada hal-hal yang merusak
benarku. Jatuh hati kepadamu, membuatku benar-benar jatuh diri, aku bahkan
mempermalukan diri kepada penduduk bumi. Aku cinta, tapi kau tak peduli rasa.
Dan aku tetap saja melakukan. Berkali-kali. Terus menerus. Tanpa pernah mengajak logika.
Hingga saat menulis kalimat
ini. Aku menyadari aku memang harus membunuh segalanya. Aku benci dengan
perasaan yang tak tahu diri ini. Aku benci bila harus bertemu denganmu setiap
hari, dan aku masih memikul berat perasaan ini di dadaku. Kau tahu? Tak ada
yang lebih sakit saat hatimu terlalu mendasar, tapi yang kau dapatkan hanyalah
senyuman kasar. Sudahlah, aku ingin kembali menjadi manusia yang tak mencintai
kamu. Aku ingin kembali menjadi manusia yang dihargai penduduk bumi. Seperti
hakikatnya cinta; selalu membuatmu menjadi lebih berharga, bukan membuatmu
jatuh dan mengemis. Cinta itu kaya, tak selayaknya ia membuatmu menjadi
pengemis. Tak selayaknya ia menjadikanmu budak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar